Film yang disutradai oleh Sunil Soraya ini mendapatkan
respons positif dari banyak kalangan. Film yang angkat dari sebuah novel laris
pada zamannya itu menarik perhatian sutradara kebangsaan Indonesia ini untuk
menjadikannya sebuah film layar lebar. Haji Abduk Malik Karim Abdullah atau
yang sering dikenal dengan nama Buya Hamka adalah seorang penulis yang karya –
karyanya telah diakui oleh para sastrawan Indonesia lainnya. Tenggelamnya Kapal
Van Der Wijck adalah salah satu hasil dari karya tulisannya ynag cukup
fenomenal. Dengan masih memakai konflik yang sama seperti pada karya
sebelumnya. Beliau begitu apik dalam membalut jalan cerita yang penuh dengan
konflik.
Walaupun dalam penulisannya banyak juga kendala yang
menghadang seperti kritikan akibat adanya
kasus plagiat yang dilakukan Buya Hamka dan masih banyak yang lainnya. Tetapi
novel ini tetap diterima dikalangan masyarakat. Novel yang telah diangkat
menjadi film ini pun memakan waktu yang tak sedikit dalam pembuatannya. Dengan
biaya produksi yang cukup besar untuk sebuah penggarapan film. Film ini dapat
mengangkat kisah asli dari novel itu sendiri yang sesuai dengan jalan
ceritanya.
Berawal dari keinginan yang kuat dari seorang pemuda bernama
Zainuddin (diperankan oleh Herjunot Ali) untuk mengetahui daerah Padang tempat
kelahiran sang ayah (Sutan Padang) dan memperdalam ilmu agama. Dia memulai masa
kehidupannya yang penuh dengan rintangan yang mengahadang. Dimulai dari
pertemuannya dengan gadis cantik bernama Hayati (diperankan oleh Pevita Pearce)
yang mendapatkan penolakan dari warga sekitar dan juga Tetua Adat yang tak lain
dan tak bukan adalah paman dari Hayati. Zainuddin yang tidak mempunyai asal –
usul keturunan yang jelas adalah salah satu penyebab dari permasalahan yang
terjadi. Cinta Zainuddin begitu amat besar kepada Hayati, hingga dia tidak
terima bahwa Hayati telah menikah dengan salah satu pemuda berketuruna Padang
asli yang bernama Aziz (diperankan oleh Reza Rahardian). Kekecewaan yang amat
besar itu memukul batin Zainuddin. Dia pun akhirnya memutuskan untuk pindah
dari Padang ke daerah Jawa bersama sahabatnya Muluk (diperankan oleh Randhy
Danistha).
Karir Zainuddin terus berkembang dengan pesatnya. Cetakan
buku dari karangannya mulai mengubah dunianya. Tak lama dari pindahnya
Zainuddin dan Muluk dari Jakarta ke Surabaya datanglah Aziz dan Hayati. Mereka
dipertemukan kembali disebuah pesta yang diadakan Zainuddin dirumah baru nya.
Pertemuan mereka di Surabaya membuka awal permasalahan antara batin dikedua
pasangan yang masih mencintai ini. Kebiasaan aziz yang suka berfoya – foya
mebuat Hayati dan juga Aziz menumpang dirumah Zainuddin. Akibat hutang yang
besar mengakibatkan semua barang dan juga rumah Aziz disita. Selama beberapa
hari disana, Aziz terserang penyakit.Setelah keadaannya mulai membaik, Aziz
memutuskan untuk pindah dari rumah Zainuddin dengan maksud untuk memulai
lembaran bau karirnya tanpa mengajak sang istri, Hayati.
Beberapa waktu kemudian, kabar mengejutkan terjadi. Aziz
menjatuhkan talak kepada Hayati, tak
lama dari kejadian itu kabar meninggalnya Aziz pun terdengar. Zainuddin meminta
kepada Hayati untuk pulang kembali ke Padang dengan raut wajah kasar terlihat
mengusir. Dengan berat hati, Hayati mengikuti perintah Zainuddin. Dengan sebuah
Kapal Van Der Wijck yang akan berlayar, Hayati pergi meninggalkan Surabaya
untuk ke Padang. Ditengah perjalanan, kapal yang ditumpangi Hayati tenggelam.
Hayati meninggal setelah Zainuddin berulang kali mengucapkan kalimat syahadad
ditelinganya. Kecintaan Zainuddin membuat dirinya amat terpukul. Dia pun
menggunakan lahan pekarangan rumahnya untuk dijadikan sebuah tempat pemakaman
untuk Hayati. Dan menjadikan rumah besarnya sebagai tempat panti asuhan bernama
Hayati.
Sama seperti film lainnya yang mengambil tema romantis,
drama. Film ini dapat memberikan sentuhan yang sesuai dengan temanya. Cinta tak
terbalaskan menjadi konflik utama yang begitu amat diperhatikan. Konflik dalam
film ini hampir sama dengan konflik
disalah satu film Indonesia berjudul “Heart”. Film garapan sutradara Hanny R.
Saputra ini mengambil jalan konflik yang sama yaitu cinta tak terbalaskan
antara sepasang sahabat. Dimana sepasang sahabat antara Rachel (diperankan oleh
Nirina Zubir) menyukai temannya sendiri bernama Farrel (Irwansyah).
Persahabatan yang terjalin cukup lama ini menimbukan benih – benih cinta dihati
Rachel. Sayangnya, Farrel tidak mengubris perasaan Rachel. Dia telah jatuh hati
kepada seorang wanita bernama Luna (diperankan oleh Acha Septiasa). Hingga
akhirnya Rachel meninggal dunia. Dari kedua film ini terlihat kesamaan konflik
dalam memainkan jalan ceritanya. Terlihat jelas perbedaan antara kedua film
ini. Terlihat dari bahasa penggunaan dan juga waktu penggambilan dalam cerita.
Bahasa daerah yang kental menjadi ciri khas dari film Tenggelamnya Kapal Van
Der Wijck sedangkan bahasa yang sederhana terlihat didalam pembawaan film
Heart. Selain itu konflik dan jalan cerita dari kedua film ini terbungkus rapi
dengan kekhasan dari masing – masing film ini.
Dan setiap film pasti memiliki kelebihan dan juga
kekurangan. Dalam film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” garapan Sunil Soraya
ini juga memiliki kelebihan dan kekuranga, seperti halnya tata bahasa pengunaan
yang begitu berat dansusah dipahami merupakan salah satu kekurangan dari film
ini. Pendanaan yang besar ini juga kurang memuaskan penonton dari segi animasi.
Masih terlihat jelas bantuan komputer jika dilihat baik – baik film ini sehingga kurangnya tampilan yang cukup nyata.
Pengahayatan dari setiap pemain merupakan nilai plus dalam film ini. Pemain
yang begitu menghayati setiap perannya menimbulkan kesan dramatis dan menyentuh
hati. Hal yang sangat diperhatikan dalam film ini adalah pembuatan judul yang
kurang tepat untuk jalannya cerita ini yang menimbukan kekecewaan yang cukup
besar. Penjelasan yang kurang membuat beberapa scene dari cerita kurang
dipahami.
Terlihat jelas dari film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”
dapat kita simpulkan perbedaan ras dan begitu kuatnya aturan adat yang
menimbukan berbagai macam problematika kehidupan. Film ini cukup menyegarkan
dunia perfilman karena pengambilan waktu yang berbeda dari film lainnya.
Mengambil waktu pada tahun 30 – an membuat film ini menambakan point plus.
Amanat dalam cerita ini pun begitu terasa akibat dari penghayatan dari masing –
masing pemain.




Bagusss keren deh. Kenapa gak endingnya disatuin gitu sama yang struktur teks dibawahnya hihi tapi udah bagus kokk
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSudah bagus mocha :))) setiap bagian strukturnya ada dan lengkap. Cerita juga menarik. Semangat terus berkarya yakkk!!
BalasHapusBagus sekali reviewnya, sangat bermanfaat!
BalasHapuschaa udah bagus reviewnya tapi masih ada yang kurang sinopsisnya yg dikasih terlalu lengkap nanti jd spoiler deh hihii :)
BalasHapusMakasih yakkk.. masukkan kalian bakal dijadiin pembelajaran. Sip deh
BalasHapuskeren cha kata kata nya gak ribet dan mudah di pahami, bahasanya itu gak bertele tele. seru deh. Nice work cha!!
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusUdah bagus cha secara keseluruhan:)
BalasHapusbagus cha. cerita nya lengkap, jelas, ditambah gambar juga...
BalasHapusSecara keseluruhan bagus dan lengkap cha:)
BalasHapusBagus bgt . Ditunggu tulisan yg lainnya.
BalasHapusBagus mocha udah lengkap dan jelas banget
BalasHapus