Jumat, 06 Maret 2015

Review Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck










Film yang disutradai oleh Sunil Soraya ini mendapatkan respons positif dari banyak kalangan. Film yang angkat dari sebuah novel laris pada zamannya itu menarik perhatian sutradara kebangsaan Indonesia ini untuk menjadikannya sebuah film layar lebar. Haji Abduk Malik Karim Abdullah atau yang sering dikenal dengan nama Buya Hamka adalah seorang penulis yang karya – karyanya telah diakui oleh para sastrawan Indonesia lainnya. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah salah satu hasil dari karya tulisannya ynag cukup fenomenal. Dengan masih memakai konflik yang sama seperti pada karya sebelumnya. Beliau begitu apik dalam membalut jalan cerita yang penuh dengan konflik.

Walaupun dalam penulisannya banyak juga kendala yang menghadang  seperti kritikan akibat adanya kasus plagiat yang dilakukan Buya Hamka dan masih banyak yang lainnya. Tetapi novel ini tetap diterima dikalangan masyarakat. Novel yang telah diangkat menjadi film ini pun memakan waktu yang tak sedikit dalam pembuatannya. Dengan biaya produksi yang cukup besar untuk sebuah penggarapan film. Film ini dapat mengangkat kisah asli dari novel itu sendiri yang sesuai dengan jalan ceritanya.



Berawal dari keinginan yang kuat dari seorang pemuda bernama Zainuddin (diperankan oleh Herjunot Ali) untuk mengetahui daerah Padang tempat kelahiran sang ayah (Sutan Padang) dan memperdalam ilmu agama. Dia memulai masa kehidupannya yang penuh dengan rintangan yang mengahadang. Dimulai dari pertemuannya dengan gadis cantik bernama Hayati (diperankan oleh Pevita Pearce) yang mendapatkan penolakan dari warga sekitar dan juga Tetua Adat yang tak lain dan tak bukan adalah paman dari Hayati. Zainuddin yang tidak mempunyai asal – usul keturunan yang jelas adalah salah satu penyebab dari permasalahan yang terjadi. Cinta Zainuddin begitu amat besar kepada Hayati, hingga dia tidak terima bahwa Hayati telah menikah dengan salah satu pemuda berketuruna Padang asli yang bernama Aziz (diperankan oleh Reza Rahardian). Kekecewaan yang amat besar itu memukul batin Zainuddin. Dia pun akhirnya memutuskan untuk pindah dari Padang ke daerah Jawa bersama sahabatnya Muluk (diperankan oleh Randhy Danistha).

Karir Zainuddin terus berkembang dengan pesatnya. Cetakan buku dari karangannya mulai mengubah dunianya. Tak lama dari pindahnya Zainuddin dan Muluk dari Jakarta ke Surabaya datanglah Aziz dan Hayati. Mereka dipertemukan kembali disebuah pesta yang diadakan Zainuddin dirumah baru nya. Pertemuan mereka di Surabaya membuka awal permasalahan antara batin dikedua pasangan yang masih mencintai ini. Kebiasaan aziz yang suka berfoya – foya mebuat Hayati dan juga Aziz menumpang dirumah Zainuddin. Akibat hutang yang besar mengakibatkan semua barang dan juga rumah Aziz disita. Selama beberapa hari disana, Aziz terserang penyakit.Setelah keadaannya mulai membaik, Aziz memutuskan untuk pindah dari rumah Zainuddin dengan maksud untuk memulai lembaran bau karirnya tanpa mengajak sang istri, Hayati. 

Beberapa waktu kemudian, kabar mengejutkan terjadi. Aziz menjatuhkan talak kepada  Hayati, tak lama dari kejadian itu kabar meninggalnya Aziz pun terdengar. Zainuddin meminta kepada Hayati untuk pulang kembali ke Padang dengan raut wajah kasar terlihat mengusir. Dengan berat hati, Hayati mengikuti perintah Zainuddin. Dengan sebuah Kapal Van Der Wijck yang akan berlayar, Hayati pergi meninggalkan Surabaya untuk ke Padang. Ditengah perjalanan, kapal yang ditumpangi Hayati tenggelam. Hayati meninggal setelah Zainuddin berulang kali mengucapkan kalimat syahadad ditelinganya. Kecintaan Zainuddin membuat dirinya amat terpukul. Dia pun menggunakan lahan pekarangan rumahnya untuk dijadikan sebuah tempat pemakaman untuk Hayati. Dan menjadikan rumah besarnya sebagai tempat panti asuhan bernama Hayati.








Sama seperti film lainnya yang mengambil tema romantis, drama. Film ini dapat memberikan sentuhan yang sesuai dengan temanya. Cinta tak terbalaskan menjadi konflik utama yang begitu amat diperhatikan. Konflik dalam film ini hampir sama  dengan konflik disalah satu film Indonesia berjudul “Heart”. Film garapan sutradara Hanny R. Saputra ini mengambil jalan konflik yang sama yaitu cinta tak terbalaskan antara sepasang sahabat. Dimana sepasang sahabat antara Rachel (diperankan oleh Nirina Zubir) menyukai temannya sendiri bernama Farrel (Irwansyah). Persahabatan yang terjalin cukup lama ini menimbukan benih – benih cinta dihati Rachel. Sayangnya, Farrel tidak mengubris perasaan Rachel. Dia telah jatuh hati kepada seorang wanita bernama Luna (diperankan oleh Acha Septiasa). Hingga akhirnya Rachel meninggal dunia. Dari kedua film ini terlihat kesamaan konflik dalam memainkan jalan ceritanya. Terlihat jelas perbedaan antara kedua film ini. Terlihat dari bahasa penggunaan dan juga waktu penggambilan dalam cerita. Bahasa daerah yang kental menjadi ciri khas dari film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck sedangkan bahasa yang sederhana terlihat didalam pembawaan film Heart. Selain itu konflik dan jalan cerita dari kedua film ini terbungkus rapi dengan kekhasan dari masing – masing film ini.

Dan setiap film pasti memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Dalam film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” garapan Sunil Soraya ini juga memiliki kelebihan dan kekuranga, seperti halnya tata bahasa pengunaan yang begitu berat dansusah dipahami merupakan salah satu kekurangan dari film ini. Pendanaan yang besar ini juga kurang memuaskan penonton dari segi animasi. Masih terlihat jelas bantuan komputer jika dilihat baik – baik film ini  sehingga kurangnya tampilan yang cukup nyata. Pengahayatan dari setiap pemain merupakan nilai plus dalam film ini. Pemain yang begitu menghayati setiap perannya menimbulkan kesan dramatis dan menyentuh hati. Hal yang sangat diperhatikan dalam film ini adalah pembuatan judul yang kurang tepat untuk jalannya cerita ini yang menimbukan kekecewaan yang cukup besar. Penjelasan yang kurang membuat beberapa scene dari cerita kurang dipahami.

Terlihat jelas dari film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” dapat kita simpulkan perbedaan ras dan begitu kuatnya aturan adat yang menimbukan berbagai macam problematika kehidupan. Film ini cukup menyegarkan dunia perfilman karena pengambilan waktu yang berbeda dari film lainnya. Mengambil waktu pada tahun 30 – an membuat film ini menambakan point plus. Amanat dalam cerita ini pun begitu terasa akibat dari penghayatan dari masing – masing pemain.

13 komentar:

  1. Bagusss keren deh. Kenapa gak endingnya disatuin gitu sama yang struktur teks dibawahnya hihi tapi udah bagus kokk

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Sudah bagus mocha :))) setiap bagian strukturnya ada dan lengkap. Cerita juga menarik. Semangat terus berkarya yakkk!!

    BalasHapus
  4. Bagus sekali reviewnya, sangat bermanfaat!

    BalasHapus
  5. chaa udah bagus reviewnya tapi masih ada yang kurang sinopsisnya yg dikasih terlalu lengkap nanti jd spoiler deh hihii :)

    BalasHapus
  6. Makasih yakkk.. masukkan kalian bakal dijadiin pembelajaran. Sip deh

    BalasHapus
  7. keren cha kata kata nya gak ribet dan mudah di pahami, bahasanya itu gak bertele tele. seru deh. Nice work cha!!

    BalasHapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  9. Udah bagus cha secara keseluruhan:)

    BalasHapus
  10. bagus cha. cerita nya lengkap, jelas, ditambah gambar juga...

    BalasHapus
  11. Secara keseluruhan bagus dan lengkap cha:)

    BalasHapus
  12. Bagus bgt . Ditunggu tulisan yg lainnya.



    BalasHapus
  13. Bagus mocha udah lengkap dan jelas banget

    BalasHapus